Cinta Mati!
Selagi menemani istri menonton “Masihkah Kau Mencintaiku?” di RCTI, tiba-tiba istriku berbalik dari TV dan menatap saya, seraya menanyakan satu pertanyaan,”Masihkah kau mencintaiku?” Cukup kaget juga mendengar pertanyaannya, dengan gaya serius saya menjawab,”Kamu itu ’cinta matiku’, tidak akan pernah berpaling ke lain hati.” Seperti syair lagunya Mulan Jameela,”Cinta Mati”, “Cinta mati harus dijaga sampai mati. Jangan sampai ke lain hati.” Cinta berbicara tentang komitmen, komitmennya adalah ”sampai maut memisahkan kita”. Hanya kematian yang dapat memisahkan, mungkin itu artinya cinta mati.
Satu lagi, setelah menanyakan pertanyaan tersebut dia berkata,”Saya tidak akan menangis kalau kamu meninggal duluan.” Wah, apa artinya ini? ”Karena saya telah berbuat yang terbaik dalam melayani suami selama hidupnya, dan tidak menyesal karena belum berbuat yang terbaik.” Kebanyakan istri-istri menangisi suaminya yang meninggal karena merasa bersalah tidak melayaninya dengan sepenuh hati selama hidupnya.”
Wanita dan pria memang diciptakan berbeda, wanita cenderung menggunakan perasaannya sedangkan pria cenderung menggunakan logikanya. Jadi harus bagaimana? Terima apa adanya! Saya mulai bicara,”Untung ada yang mau sama saya, orang bilang wajah saya sadis.” Istri saya menimpali,”Untung juga ada yang mau terima saya, orang tua saya bilang mana ada yang berani dekati saya karena galak.” Jadi saya dan istri sama-sama untung, hubungan mutualisme. Saya terima dia apa adanya dan dia terima saya apa adanya. Amsal berkata,”Orang yang mendapat seorang istri mendapat sesuatu yang baik. Istri adalah berkat yang diberikan TUHAN kepadanya.” Berkat dari Tuhan memang yang terbaik, tetapi seperti halnya berkat-berkat yang lain, jika tidak ditangani dengan baik, malah akan menyusahkan kita. Contohnya berkat kekayaan, jika tidak dikelola dengan baik, malah menghancurkan pribadi seseorang. Hubungan dengan istri atau suami (bagi seorang istri) memang harus dijaga dan dipelihara.
Bagaimana menjaga dan memelihara hubungan? Amsal memulainya dengan kata-kata ini,”Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Andreas Sustono menanyakan ini dalam suatu seminar, ”Apakah bisa tertarik lagi dengan lawan jenis?” Salah seorang bapak menjawab dengan mantap,”Bisa.” Memang bisa, karena bila hati tidak dijaga dengan segala kewaspadaan, maka bisa saja tertarik. Memang manusia diciptakan dengan panca indera yang memungkinkan untuk saling tertarik atau kagum. Jadi wajar-wajar saja kalau tertarik dengan seseorang yang memiliki kelebihan tertentu. Ini sebatas dalam rasa kagum yang wajar, setelah itu…. biarkan rasa kagum itu mati dengan sendirinya, waktu akan memadamkannya. Cinta atau ketertarikan yang dilandaskan emosi akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berlalunya waktu. Kesalahannya adalah memelihara rasa kagum itu dengan main api, jalan bareng dlsb. Amsal berkata,”Ada tiga hal yang mengherankan aku, bahkan, ada empat hal yang tidak kumengerti: jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.” Hati-hati berhubungan dengan lawan jenis karena kita tidak tahu apa akhirnya.Waspadalah!
Langkah kedua adalah saling menyesuaikan, Amsal berkata,” Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Saya ingat pertama kali menikah, sebagai mantan bujangan baru, saya tidak terlalu peduli dengan kerapian, saya menaruh barang di mana saja. Sedangkan istri seorang yang tinggal di kost-kost-an sangat peduli kerapian, karena akan menghabiskan banyak waktu untuk merapikan kamar kost yang berantakan. Jadi pada awal pernikahan selalu ada pertengkaran mengenai hal ini. Seiring berjalannya waktu, saya belajar untuk menaruh barang pada tempatnya dan istri saya belajar untuk menerima kebiasaan saya ini salah satunya dengan memberikan satu gudang di samping rumah yang tidak akan dikomentari apapun oleh dia. Jadi masing-masing menyesuaikan diri, seperti besi menajamkan besi, gesekan yang timbul menyempurnakan keduanya, suami-istri disempurnakan dalam sebuah rumah tangga. Seperti yang pernah saya katakan, ”Pernikahan adalah pintu gerbang untuk menempuh kedewasaan sesungguhnya.”
Oke, sampai di sini dulu. Sebagai penutup, istriku menciptakan lagu… mengambil irama dari Naif. Dalam lagu“Posesif”: “Cinta matiku….. Namanya Budi…” Amien.
(Ong Budi Setiawan - KlubAmsal.com)


